[Artikel ini pernah dimuat di Kompas 01/12/2009]
Tahukah anda, bahwa semakin hari kualitas udara kota Bandung semakin buruk yang dipicu oleh polusi udara yang semakin tinggi? Tingginya polusi udara Kota Bandung ini, bahkan lebih tinggi dari Kab. Bandung, Kota Cimahi maupun Kab. Sumedang. Dari hasil pengukuran kualitas udara kota Bandung pada tahun 2005, diketahui bahwa di beberapa ruas jalan kadar polutannya sudah melewati nilai ambang batas (www.udarakota.bappenas.go.id). Hasil pengukuran ini menunjukkan bahwa di Jln. Asia Afrika kadar CO 8-12 ppm. Di Jln. Merdeka, CO mencapai 8,2-14,7 ppm. Padahal, batas konsentrasi karbon monoksida (CO) adalah 9 ppm.
Pengukuran ini juga menyimpulkan bahwa penyumbang polutan CO terbesar bagi Kota Bandung adalah berasal dari sektor transportasi yang terdiri atas kendaraan pribadi, motor, dan angkutan umum. Simpulan ini relevan dengan hasil polling yang dilakukan oleh bappenas pada situs yang sama (23/11), dari 1.264 responden menyatakan bahwa kontributor pencemaran udara terbesar di berbagai kota besar berasal dari kendaraan bermotor (60%). Disusul urutan kedua adalah sektor industri (30%) dan kebakaran hutan memberikan kontribusi penyebab polusi sebesar 10%.
Menurut Ir. Puji Lestari, dosen dan peneliti Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, pencemaran udara di Kota Bandung pada tahun 2009 ini telah meningkat menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2002. Pada 2002 kandungan karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrokarbon, dan suspended particulated matter masing-masing mencapai 31.079,9 mikrogram per meter kubik, 2.820,5 mikrogram per meter kubik, 2.923,6 mikrogram per meter kubik, dan 392 mikrogram per meter kubik (Kompas, 06/08/2009). Dan kendaraan bermotor tetap sebagai pemicu polusi tertinggi.
Oleh karena penyebab polusi terbesar adalah sektor transportasi, maka adalah sangat tepat jika usaha-usaha untuk mengatasi polusi udara tersebut dimulai dengan melakukan pengaturan-pengaturan berkaitan dengan penggunaan kendaraan bermotor. Meskipun pengaturan penggunaan kendaraan bermotor di Bandung ini menjadi kewenangan pemerintah daerah, namun sangatlah tidak bijak jika kita tidak berkontribusi secara aktif. Kontribusi aktif dapat dilakukan oleh masyarakat, misalnya dalam bentuk membatasi penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Sebagai penggantinya, sebagai alat transportasi kita bisa menggunakan angkutan umum atau sepeda! Sepeda? Ya, sepeda, mengapa tidak.
Sepeda Dicibir?
Sebagian orang memang masih mencibir tentang penggunaan sepeda sebagai alternatif alat transportasi untuk menunjang aktivitas bekerja. Karena sebagian orang ini masih menganggap bahwa pemakaian sepeda sebagai alat transportasi akan merepresentasikan kelas sosial marjinal bagi pemakainya. Namun demikian, sesungguhnya hal ini sangat bergantung kepada bagaimana kita memaknai arti bersepeda. Memaknai sesuatu atau enrichment adalah bagaimana kita memandang dan menempatkan sesuatu tersebut pada persepsi kita. Bagaimana kita memandang sesuatu itu akan sangat tergantung pada bagaimana kita memaknai sesuatu tersebut.
Sewaktu kita hanya punya sepeda dan belum punya sepeda motor –apalagi mobil, kemana-mana setiap kali beraktivitas, kita selalu menggunakan sepeda. Entah itu ke sekolah, ke warung, ke perpustakaan, ke tempat les, ke rumah kawan atau kemanapun. Tetapi saat kita mulai dewasa dan banyak di antara kawan kita yang telah mengendarai sepeda motor bahkan mobil, maka kita sering beranggapan bahwa memakai sepeda motor apalagi mobil lebih bergengsi daraipada naik sepeda. Dengan kata lain mengendarai sepeda lebih terhina daripada mengendarai motor.
Ke sekolah menengah apalagi kuliah, kita sudah merasa malu menggenjot sepeda. Terlebih lagi jika bertandang ke rumah seseorang yang kita ingin dekati. Kita lebih senang naik angkot daripada bersepeda. Lebih bergengsi dan berkelas, katanya.
Itulah contoh kongkret bagaimana kita memaknai sesuatu hal, dalam hal in sepeda. Jika kita memaknai bahwa sepeda merupakan alat angkut yang sangat hina, maka kita akan malu mengendarainya. Karena kita telah menganggap bahwa diri kita sangat hina akibat sepeda itu.
Namun jika kita memaknainya dengan makna lain yang lebih tinggi, maka kita akan dengan senang hati atau bahkan sangat bangga mengendarai sepeda. Jika kita melekatkan makna bersepeda adalah olah raga, maka kita akan dengan senang hati bersepeda karena ada target tinggi berupa kebugaran yang hendak kita capai. Betapapun jalan naik ataupun turun gunung. Baik di jalan raya atau bahkan di jalan tanah berbatu atau berlumpur, kita akan dengan senang hati menggenjot sepeda bahkan menuntun atau memanggul sepeda itu jika jalan tak lagi bisa dilalui dengan mengendarainya. Itu semua kita lakukan dengan senang hati dan gembira.
Makna Tertinggi
Demikian pula di lingkungan pekerjaan. Bagaimana kita memaknai setiap pekerjaan yang kita lakukan, akan sangat mempengaruhi kualitas hasil pekerjaan kita. Paling tidak dari sisi interpretasi kita. Jika kita memaknai diri kita hanyalah sebagai anak buah dan pesuruh atasan, maka kita hanya akan bertindak jika kita disuruh dan diperintah oleh atasan tanpa inisiatif. Tetapi jika dengan pekerjaan yang sama kita memaknainya dengan lebih tinggi, sebagai partner atau bahkan sebagai pengatur pekerjaan atasan, maka kita secara tak sadar akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Karena kita merasa yakin bahwa tanpa peran kita, atasan tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal.
Oleh karena itu, mari kita maknai aktivitas bersepeda kita dengan makna tertinggi yang dapat kita lekatkan padanya. Jika kita meletakkan makna bersepeda sekedar sebagai gaya hidup para eksekutif maupun para urban, maka kita hanya akan senang hati mengendarai sepeda sebatas gaya hidup. Karena dalam persepsi kita, kita tidak sedang mengendarai sepeda tetapi kita sedang larut mengikuti mode dan gaya hidup, yang sesaat berikutnya dapat pudar sejalan munculnya gaya hidup yang lain. Namun jika kita melekatkan arti bersepeda secara hakiki bahwa sepeda adalah alat transportasi yang ramah lingkungan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para anggota komunitas pekerja bersepeda atau Bike to Work (B2W), maka kita akan dengan sengan hati dan bangga mengendarai sepeda tersebut. Karena dalam persepsi kita, sesungguhnya kita bukan hanya sedang mengayuh sepeda untuk beraktivitas, tetapi kita sedang beramal soleh bagi jagat raya ini dengan mengurangi global warming, mengurangi polusi udara kota Bandung yang semakin hari semakin menguatirkan.
Mari kita hijaukan bumi ini, kita birukan langit ini.
Lamun sanes urang, saha deui?
Lamun teu ayeuna, iraha deui?
Let’s act beyond green.