Komitmen
Ditulis oleh jamugendong di/pada 29 Juni 2007
Minggu lalu saya sempat jengkel dengan seorang tukang jahit di pinggir jalan. Saat itu saya ingin mengganti risliting celana yang rusak. Setelah celana saya serahkan, maka saya mampir ke warung makan yang tidak jauh dari situ. Setelah makan selesai, harapan saya celana juga telah selesai diganti rislitingnya, namun apa dikata ternyata celana saya belum diperbaiki. Sementara saya lihat penjahitnya dari tadi asyik merokok. Dan yang membuat saya lebih keki lagi adalah penjahit itu dengan santainya meminta saya untuk mengambil kembali celana tersebut besok pagi.
Dan besok pagi pada waktu yang telah dijanjikan ternyata celana saya juga belum diperbaikinya. Dan ini tentu semakin menambah kejengkelan saya. Coba dari kemarin istri saya yang mengerjakan, gak nyampai 15 menit pasti sudah kelar.
Fenomena atau budaya rendahnya komitmen semacam ini ternyata juga dimiliki oleh banyak tukang jahit. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua tukang jahit tidak mempunyai komitmen atau rendah komitmennya terhadap janji penyelesaiaan pekerjaan, karena saya tidak mempunyai data itu. Tapi yang jelas beberapa kawan saya yang pernah berhubungan dengan tukang janit pernah mengalami kasus seperti itu.
Ketidakmampuan bisnis jahit-menjahir ini bertahan hidup karena mereka kurang menjaga komitmen kepada kastemernya. Janji penyelesaian pekerjaan seringkali tidak ditepatinya, meskipun sebenarnya mereka sanggup menepatinya. Mereka lebih sering membiarkan kapasitas produksinya menganggur alias idle capacity. Mereka tidak menyadari bahwa toko baju sekarang sudah banyak bertebaran di sepanjang jalan terlebih-lebih di pusat pertokoan atau pusat perbelanjaan. Mereka tidak sadar bahwa pabrik garmen skala besar juga sudah bermain retail dengan membuka factory outlet.
Apakah sampeyan juga pernah dikecewakan tukang jahit seperti saya?

tukang ketik berkata
kalau tukang jahit, saya pernah nulis juga disini:
http://adiwirasta.blogspot.com/2007/01/tukang-jahit-dpr.html
salam kenal pak. blognya bermutu nih..
sering2 mampir ah
-tikabanget- berkata
tukang jahit juga manusia..
manusia endonesa pula..
ndoro kakung berkata
saya pernah jadi korban tukang permak celana lepis. saya minta potong, eh motongnya kepanjangan. jadilah celana lepis baru saya itu kependekan … hiks